Di sebuah rumah yang lebih mirip sarkofagus, tinggal dua orang kakak beradik yang mengaku sebagai kakak beradik. Nang dan Nung, harus berjuang untuk tetap hidup setelah kedua orangtuanya tewas dimakan sapi jantan yang sedang hamil. Diduga sapi tersebut ternak hasil pesugihan kedua orangtuanya.
Kehidupan Nang dan Nung biasa-biasa saja. Tidak ada petualangan, tidak ada romansa, tidak ada hutang piutang apalagi rencana pencurian celana dalam tetangga mereka yang seksi tapi laki-laki. Nang dan Nung tidak pernah bangun pagi, makanya rejeki mereka dipatok ayam. Sungguh dipatok ayam, karena ayam-ayam di sana tidak pernah diberi makan dan setiap pukul tujuh pagi turun hujan uang lima ribuan dan koin seratusan. Pantas saja setiap sore tidak jarang ditemukan beberapa ekor ayam yang menderita ambeien setelah buang air besar.
Suatu hari, mereka kedatangan surat. Ini merupakan sebuah peristiwa besar bagi Nang dan Nung, mengingat mereka tidak memiliki kerabat seorangpun, apalagi musuh dan tagihan internet. Dan hari ini mereka mendapatkan S-U-R-A-T. Dengan tergesa-gesa Nung merobek dan membacanya keras-keras:
Kepada Anda yang terpilih,
Perkenalkan, Saya Orang Bijak. Bagi siapapun yang menerima surat ini, silahkan antar kembali surat ini ke tempat saya. Imbalan bagi yang menemukan sebesar 5 kantung emas. Terlampir alamat dan nomor telepon. Jangan coba-coba panggil polisi, ini bukan ajakan untuk MLM.
O.B
Tanpa pikir panjang, Nang dan Nung segera mempersiapkan diri untuk berangkat menuju rumah si Orang Bijak. Bukan apa-apa, tapi tagihan listrik dan sewa rumah sudah nunggak 3 bulan. Mereka butuh uang. Dan..hoopla! Cabs bray!
...
Di tengah perjalanan, Nung kebelet buang air besar. Untung saja ada satu bilik toilet umum dekat sana. Bahkan klosetnya sudah ada penyiram otomatis dan tombol musik yang bisa diputar, seperti di Jepang.
Setelah berpikir panjang selama 20 menit menatap bilik tersebut, Nung pun masuk dan buang kotoran. Nung memang orang hebat, bisa menahan buang air selama 20 menit, pikir Nang yang gantian merenung selama Nung di dalam bilik. Sementara itu dari dalam bilik, Nung lupa membuka tutup kloset. Nung pun keluar dari bilik dengan wajah mencurigakan, lalu bilang pada Nang kalau dia tidak jadi buang air besar. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Konon setelah itu tidak ada yang mau masuk ke dalam bilik tersebut selama 2395 tahun sampai seorang astronot memberanikan diri buang air di dalamnya, tentu setelah menyingkirkan 'meteor jatuh' bekas Nung.
Tak berapa lama berselang kejadian di toilet, Nang tersentak kaget lalu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, karena di depan mereka berdiri sesosok raksasa. Nung juga berhenti dan tersentak kaget, tapi gara-gara melihat seorang kakek-kakek asik makan bakso di atas pohon pisang yang berdiri tepat di sebelah si raksasa random. Kakek tersebut juga kaget sampai tersedak, lalu jatuh dari pohon dan hilang entah kemana. Beberapa hari kemudian di semak-semak tidak jauh dari tempat itu ditemukan sebutir bakso dengan bekas gigitan berbentuk segitiga.
Raksasa itu terlihat sangat lapar dan siap menghabisi kedua yatim piatu itu. Dengan modal keberanian dan pedang yang entah sejak kapan bertengger di pinggangnya, Nang berlari menuju raksasa itu dan…memberinya uang untuk beli bakso. Nang anak yang baik hati dan tidak tega melihatnya kelaparan. Selagi si raksasa makan bakso dengan lahap, Nang dan Nung kembali melanjutkan perjalanan karena takut kemalaman. Anti-klimaks memang, tapi apa daya si penulis kehabisan ide dan fitnah lebih kejam daripada cerpen yang tidak selesai.
Malam pun tiba. Nang dan Nung sampai juga di kediaman si Orang Bijak yang mirip Mario Teguh. Diberikannya surat yang dimaksud, dan tanpa basa-basi mereka bertanya,
"Mana imbalannya?", kata Nang dan Nung serempak.
Si Orang Bijak yang mirip Mario Teguh itu pun tersenyum seraya berkata, "Kalian sudah dapatkan hadiahnya. Petualangan, persaudaraan, persahabatan. Sesuatu yang tidak pernah kalian rasakan seumur hidup. Bagaimana rasanya, indah bukan?"
Nang dan Nung saling memandang satu sama lain, termangu sesaat sebelum akhirnya tertawa bersama. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak tertawa, tidak membasuh peluh dan berjalan berdampingan sambil saling menjaga.
Belum sempat mengucapkan terima kasih kepada si Orang Bijak, beliau sudah menghilang ditelan malam yang semakin dingin. Tanpa uang sepeser pun, Nang dan Nung kembali melanjutkan perjalanan kembali ke rumah. Di tengah jalan mereka menangis, teringat tagihan yang semestinya sudah lunas apabila 'imbalan' dari si Orang Bijak ada di tangan mereka.
Sialan, makan tuh petualangan.