Friday, November 14, 2014

Bukan Tujuh Kurcaci Itu Pelakunya.

Di sebuah rumah yang lebih mirip sarkofagus, tinggal dua orang kakak beradik yang mengaku sebagai kakak beradik. Nang dan Nung, harus berjuang untuk tetap hidup setelah kedua orangtuanya tewas dimakan sapi jantan yang sedang hamil. Diduga sapi tersebut ternak hasil pesugihan kedua orangtuanya.

Kehidupan Nang dan Nung biasa-biasa saja. Tidak ada petualangan, tidak ada romansa, tidak ada hutang piutang apalagi rencana pencurian celana dalam tetangga mereka yang seksi tapi laki-laki. Nang dan Nung tidak pernah bangun pagi, makanya rejeki mereka dipatok ayam. Sungguh dipatok ayam, karena ayam-ayam di sana tidak pernah diberi makan dan setiap pukul tujuh pagi turun hujan uang lima ribuan dan koin seratusan. Pantas saja setiap sore tidak jarang ditemukan beberapa ekor ayam yang menderita ambeien setelah buang air besar.

Suatu hari, mereka kedatangan surat. Ini merupakan sebuah peristiwa besar bagi Nang dan Nung, mengingat mereka tidak memiliki kerabat seorangpun, apalagi musuh dan tagihan internet. Dan hari ini mereka mendapatkan S-U-R-A-T. Dengan tergesa-gesa Nung merobek dan membacanya keras-keras:

Kepada Anda yang terpilih, 
Perkenalkan, Saya Orang Bijak. Bagi siapapun yang menerima surat ini, silahkan antar kembali surat ini ke tempat saya. Imbalan bagi yang menemukan sebesar 5 kantung emas. Terlampir alamat dan nomor telepon. Jangan coba-coba panggil polisi, ini bukan ajakan untuk MLM. 
O.B

Tanpa pikir panjang, Nang dan Nung segera mempersiapkan diri untuk berangkat menuju rumah si Orang Bijak. Bukan apa-apa, tapi tagihan listrik dan sewa rumah sudah nunggak 3 bulan. Mereka butuh uang. Dan..hoopla! Cabs bray!

...

Di tengah perjalanan, Nung kebelet buang air besar. Untung saja ada satu bilik toilet umum dekat sana. Bahkan klosetnya sudah ada penyiram otomatis dan tombol musik yang bisa diputar, seperti di Jepang.

Setelah berpikir panjang selama 20 menit menatap bilik tersebut, Nung pun masuk dan buang kotoran. Nung memang orang hebat, bisa menahan buang air selama 20 menit, pikir Nang yang gantian merenung selama Nung di dalam bilik. Sementara itu dari dalam bilik, Nung lupa membuka tutup kloset. Nung pun keluar dari bilik dengan wajah mencurigakan, lalu bilang pada Nang kalau dia tidak jadi buang air besar. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Konon setelah itu tidak ada yang mau masuk ke dalam bilik tersebut selama 2395 tahun sampai seorang astronot memberanikan diri buang air di dalamnya, tentu setelah menyingkirkan 'meteor jatuh' bekas Nung.

Tak berapa lama berselang kejadian di toilet, Nang tersentak kaget lalu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, karena di depan mereka berdiri sesosok raksasa. Nung juga berhenti dan tersentak kaget, tapi gara-gara melihat seorang kakek-kakek asik makan bakso di atas pohon pisang yang berdiri tepat di sebelah si raksasa random. Kakek tersebut juga kaget sampai tersedak, lalu jatuh dari pohon dan hilang entah kemana. Beberapa hari kemudian di semak-semak tidak jauh dari tempat itu ditemukan sebutir bakso dengan bekas gigitan berbentuk segitiga.

Raksasa itu terlihat sangat lapar dan siap menghabisi kedua yatim piatu itu. Dengan modal keberanian dan pedang yang entah sejak kapan bertengger di pinggangnya, Nang berlari menuju raksasa itu dan…memberinya uang untuk beli bakso. Nang anak yang baik hati dan tidak tega melihatnya kelaparan. Selagi si raksasa makan bakso dengan lahap, Nang dan Nung kembali melanjutkan perjalanan karena takut kemalaman. Anti-klimaks memang, tapi apa daya si penulis kehabisan ide dan fitnah lebih kejam daripada cerpen yang tidak selesai.

Malam pun tiba. Nang dan Nung sampai juga di kediaman si Orang Bijak yang mirip Mario Teguh. Diberikannya surat yang dimaksud, dan tanpa basa-basi mereka bertanya, 

"Mana imbalannya?", kata Nang dan Nung serempak.

Si Orang Bijak yang mirip Mario Teguh itu pun tersenyum seraya berkata, "Kalian sudah dapatkan hadiahnya. Petualangan, persaudaraan, persahabatan. Sesuatu yang tidak pernah kalian rasakan seumur hidup. Bagaimana rasanya, indah bukan?"

Nang dan Nung saling memandang satu sama lain, termangu sesaat sebelum akhirnya tertawa bersama. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak tertawa, tidak membasuh peluh dan berjalan berdampingan sambil saling menjaga. 

Belum sempat mengucapkan terima kasih kepada si Orang Bijak, beliau sudah menghilang ditelan malam yang semakin dingin. Tanpa uang sepeser pun, Nang dan Nung kembali melanjutkan perjalanan kembali ke rumah. Di tengah jalan mereka menangis, teringat tagihan yang semestinya sudah lunas apabila 'imbalan' dari si Orang Bijak ada di tangan mereka.

Sialan, makan tuh petualangan.

Monday, November 10, 2014

Pulang.

Kekasih, simpan kembali sepatu barumu.
Kita tak akan kemana-mana, tidak sekarang tidak setelah mati.
Jangan repot-repot mengantarku ke ujung dunia, 
kau takkan menemukannya, semua usahamu akan sia-sia.
Sebab kau tahu, kekasihku, ujung dunia ada di sini, 
di tempat kaki kita berpijak sekarang.
Perjalananku adalah kepulanganku,
akulah rumah bagi diriku seorang.
Kekasihku, simpan kembali sepatu barumu.

Saturday, April 12, 2014

Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa

tinta di atas kertas.







































Masih tentang lagu-lagu lokal kesayangan saya (ayo ayo cintai karya seni negeri sendiri!). Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa, adalah sebuah tembang syahdu dari penyanyi asal Yogyakarta, Frau.

Saya tidak mengerti istilah-istilah dalam musik, tapi menurut saya sebagai orang awam lagu ini terasa begitu magis. Saya merinding waktu pertama kali mendengarnya. Selain alunan nada-nada minor yang cantik dalam musiknya, kata-kata dalam liriknya juga begitu puitis dan indah sekali, ditambah duet suara merdu Lani yang khas dan suara berat serak si-penyanyi-laki-laki-yang-maaf-sekali-saya-tidak-tahu-namanya membuat saya hanyut selama lagu ini diputar. Saya merasa benar-benar di luar angkasa bersama pasangan saya yang sebenarnya tidak ada. Terimakasih atas karyamu, Frau.

Friday, April 11, 2014

No Fruits For Today




















No Fruits For Today adalah sebuah lagu dari salah satu band indie lokal favorit saya, SORE.

Tadi sore ibu membawakan dua buah pisang, di saat yang sama saya sedang mendengar lagu ini. Ini pasti sesuatu. Oke itu berlebihan, sebenarnya tidak lebih dari tangan gatel, iseng coret-coret pisang. Saya suka sekali dengan lagu ini, cantik. Lagu ini sering sekali saya putar saat begadang, sore-sore sendu dengan segelas teh dan kerupuk (kenapa kerupuk?), dan begadang. Iya, saya terlalu banyak begadang. Selamat malam, semesta.

Tuesday, April 1, 2014

Surat Untuk Dia yang Merayakan Tanggal 19 Februari.

Halo. Sudah lama tidak menulis, pas ngintip draft ternyata numpuk banyak banget. Bahaya, suamiku nanti bisa jadi brewokan. Di dalam tumpukan draft, ada satu surat untuk salah seorang kawan yang tidak kunjung terkirim, padahal ulangtahun-nya sudah lewat sebulan lalu. Akan saya tuliskan di sini saja, mungkin bisa selamanya tidak terbaca, mungkin tidak. Saya terlalu pemalu.



Kepada,

Perempuan yang terlalu rapuh untuk merasa kesepian,
Aku tidak mau menyebutkan nama.

Aku tahu saat membacanya kelak, kamu akan langsung mengejek tulisan ini. Sok berpujangga, seperti katamu dulu. Sayangnya, sok atau tidak aku akan tetap menulis. Aku ingin jadi vampir, yang jiwanya tetap tinggal dalam tulisan walau raganya sudah membusuk di dalam nisan. Lagipula aku sudah sering curhat dengan keyboard sejak sebelum bertemu kamu. Jangan seolah-olah kamu tidak pernah punya buku harian, wek.

Ah, lupakan. Jadi begini, aku bosan berguyon mengucapkan dengan cara yang itu-itu saja. Jadi kali ini kubawakan dengan cara sedikit menjijikkan. Cara yang tidak kamu suka, kawan.

Tahun ini aku membuatkan sebuah gambar untukmu. Lagi. Tidak kulampirkan di sini, sayang sekali. Mungkin kamu sudah bosan, mungkin tidak. Hadiah paling murah yang bisa kuberikan yang hanya bermodalkan tinta dan kertas. Tapi percayalah, ada ketulusan yang mengendap pada setiap detik yang hangus saat aku menggambarnya. Maaf bila mengecewakanmu, tapi suatu hari nanti saat kita berdua masih hidup akan kuberi yang lebih baik dan mahal daripada ini, kubeli dengan uang hasil keringatku. Aku minta maaf.

Maaf bila hadiah dariku tidak semewah jersey orisinil atau tiket rave party, atau seistimewa kehadiran seorang laki-laki dalam perjalananmu. Tidak apa, seorang kawan yang kehilangan antusiasme biasanya memang sedang dimabuk cinta. Walaupun begitu, terimakasih untuk tetap ada. Awet ya, selama-lamanya. Jangan lagi menelponku berjam-jam hanya saat patah hati, lain kali bawalah kabar baik. Sekali lagi aku minta maaf, tidak ngomong langsung malah menulis di sini. Duh, aku terlalu banyak mengucapkan maaf. Sudahlah.

Selamat ulang tahun, bangsat. Bahagia dan penuh selalu. Jaga egomu.



I love you.



Dari,
seorang kawan yang masih sayang sekali padamu.


P.S: ternyata lama-lama lucu juga disangka biseks. pendek sekali pikiran orang-orang itu.

Aku Ingin Menjadi..


Kau adalah sekeras-kerasnya lengking peluit kereta api.
Apalah aku, hanya bisa membungkuk menanti di peron, 
tak punya petunjuk kapan kereta tiba di stasiun.

Kau adalah selembut-lembutnya harum petrikor pada hujan pertama di bulan Oktober.
Apalah aku, yang hanya ingin menjadi tanah gersang yang merayu mesra sekelompok awan.

Kau adalah sebising-bisingnya guratan tinta pada sore yang bising. 
Dan apalah aku, aku hanya ingin menjadi lembar buku tua dengan segala ketulusannya. 
Di sana masing-masing kita membagi jejak, selebihnya kau dan aku tak lagi berjarak.

Wednesday, February 12, 2014

Untuk Orang Asing Yang Melukis Candu


Kau bisa bilang ini merupakan sebuah surat terbuka, yang kutulis lantang-lantang hingga kedelapan jemariku menegang. Kau bisa bilang ini lelucon, karena kita tak pernah kenal sebelumnya. Tapi kau tak bisa tak membaca sampai habis, sebab rasa penasaranmu mulai mengikis.

Hai, orang asing. Aku tak pernah tahu warna matamu, pun menghirup bau tembakau atau cat minyak yang menempel di tubuhmu. Aku tak pernah mendengar suaramu, apakah renyah apakah basah, aku tak tahu. Aku tak pernah melihat caramu berjalan, caramu tersipu malu, caramu membasuh peluh di wajah, aku tak tahu.

Sebagaimana sepotong adegan dalam sebuah serial televisi Amerika mengatakan bahwa tidak ada hal baik terjadi setelah pukul dua, aku menemukannya sebagai sebuah kesalahan. Pada hari-hari sepi tertentu, waktu setelah pukul dua adalah semacam lotre menjelang terlelap dalam tidur yang lelah. Bisa-bisanya hadiahnya. Bisa-bisanya tersenyum hingga tertidur. Bisa-bisanya namamu yang terakhir kusebut sebelum mimpi menyambut.

Kapan-kapan bolehkah kita duduk berhadap-hadapan?                                                                                     Di atas meja sudah kusiapkan secangkir percakapan dengan dua sendok rindu, sebab dadaku sudah terlalu penuh olehmu; orang asing yang melukis candu.


Friday, January 31, 2014

Surat Untuk Tuan Pohon Yang Pemalu



Tuan pohon yang pemalu, 
Aku tidak pandai menulis surat.
Kugurat singkat-singkat saja pada sehelai daunmu, 
kuberi tanda dengan getah dari batangmu, 
tidak terlipat dan tidak menyentuh tanah.


Tuan pohon yang pemalu, 
ini isi suratku: Aku punya pertanyaan,
Dosakah merindukan orang asing,
yang bahkan tak pernah kudengar suaranya?

Friday, January 17, 2014

Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 @Galeri Nasional

Beberapa waktu lalu saya dan Eveline sempat mengunjungi sebuah program bertajuk Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 di Galeri Nasional, Jakarta. Diadakan selama sebulan, dari tanggal 19 Desember 2013 hingga 19 Januari 2014. Pameran bertema GeoEtnik ini adalah sebuah program berskala nasional, melibatkan 93 peserta dari 8 sektor ekonomi kreatif, seperti arsitektur, desain interior, kriya, tekstil dan grafis. Ada 53 karya personal dan 13 karya kolaborasi yang dipamerkan di pameran ini. 

Berikut beberapa foto (iya foto saya, hehe) yang diambil di sana.


Cocoon Menetas di Alam
Children's Nest
Children's Nest (2)
Rumah Kucing
Ombusombus
Farhat

Grafiti di tembok bagian luar galeri

Instalasi kertas oleh BPA Architect
Instalasi kertas (2)


The 8th Day, karya Yasser Rizky (kebetulan dosen di kampus saya)
Through The Space Within Padmasana






















































































Sebagai orang yang bekerja di bidang kreatif, tentu saya sangat menghargai kegiatan pameran seni seperti ini, karena penghargaan terhadap seni masih sangat rendah di Indonesia. Saya harap akan ada lebih banyak lagi event semacam ini, agar kita dapat lebih menghargai sekaligus menunjukkan kualitas terbaik desainer-desainer lokal. Oh iya, maaf tidak semua karya saya cantumkan, karena memang banyak sekali. 

Cari Angin di Luar Museum Keprajuritan Indonesia

Anak Jakarta atau yang pernah ke Jakarta pasti kenal dengan tempat wisata TMII a.k.a Taman Mini Indonesia Indah. TMII ini tuh versi kecilnya Nusantara, karena di tempat ini ada bermacam-macam ikon budaya dari banyak suku di Nusantara, contohnya rumah adat. Selain itu, ada banyak sekali museum di sana, seperti Museum Listrik, Museum Serangga, Museum Olahraga dan masih banyak lagi. TMII merupakan alternatif tempat wisata yang cocok untuk anak-anak, karena memiliki nilai budaya dan edukasi yang tinggi, namun tetap dikemas dengan fun dan playful. Tidak heran bila TMII sering dijadikan tujuan karyawisata dari sekolah-sekolah. Nah, kalau yang sudah pernah ke sini pasti tahu dong bangunan di bawah ini?

























Yap, benteng yang keren ini (apalagi kalau lihat langsung) adalah Museum Keprajuritan Indonesia. Cukup dengan mengorek kocek sebesar 2500 rupiah saja untuk bisa masuk ke dalam area museum. Museum ini menyajikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sangat disayangkan bagian dalam yakni ruang diorama penerangannya kurang dan sedikit kotor seperti tidak terawat. Yang mau belajar harus masuk ke dalam, kelas menengah alay yang mau foto-foto juga bisa foto di atas danau sampai di tangga darurat.

Sebenarnya pas di dalam rada ngeri karena ruangannya gelap (pake banget) jadi jalannya buru-buru. Ditambah banyak patung-patung yang disinari cahaya minim, makin pingin cepet-cepet keluar. Hasilnya ya enggak sempat lihat apa-apa. Susah ya kalau takut gelap.

Jadi saya nggak mau bahas dulu ada apa di dalam benteng angker itu, melainkan apa yang ada di sekitarnya. Bukan membahas juga sih, cuma pamer foto. Oh, maafkan kalau di sebagian besar foto ada anak kecil berbaju biru. Bukan, bukan penunggu museum, itu adik saya. Dan waktu itu mendung jadi suasana fotonya agak-agak sendu tidak berwarna.

Perairan persis di depan benteng. Tenang, kita gak harus berenang untuk mencapai benteng.
























Di ujung perairan, persis menempel dekat jembatan ada dua kapal tradisional yaitu Kapal Pinisi dan Kapal Banten, tapi yang kefoto cuma satu (uh maaf). Foto yang di bawah ini adalah Kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan. Bisa naik ke atasnya loh, bukan sekedar pajangan doang.


Kapal Pinisi
























Jembatannya goyang-goyang. Saya takut air, jadi terlihat konyol waktu menyebrang, sampai terpaksa disalip beberapa pengunjung karena berjalan terlalu lama.
























Di atas kapal Pinisi! Adik saya minta difoto biar kesannya naik kapal beneran.
























Jembatan menuju benteng.
























Di sekitar perairan dan benteng juga ada taman, banyak pohon rindang dan kursi untuk duduk-duduk manis. Yang mau selonjoran sambil ngemil bareng keluarga, teman, atau pacar bisa banget. Wisata yang cukup murah kan? :p (tapi jangan dihitung sama tiket masuk TMII-nya ya)

Tuesday, January 14, 2014

Tidak perlu dibaca.

Januari sudah berjalan separuh bulan, saya masih pengangguran. Hari ini pun masih. Sebenarnya saya sedang ada pekerjaan, menjadi joki tugas mata kuliah Eastern Art adik saya. Tapi rupanya menjadi joki tidak semenyenangkan kelihatannya, apalagi tugasnya adalah membuat paper analisa seni dari mata kuliah yang dulu jarang saya hadiri (saya selalu tidur di luar kelas).

Semakin sore saya semakin murung. Jus kombinasi bayam dan pisang yang saya buat terlalu banyak air. Ibu masak rendang sapi padahal saya tidak bisa makan daging itu. Kerupuk seblak yang dulu selalu bikin saya nangis sekarang tidak pedas lagi. Iseng ke toko buku, masih belum ada nama saya di dalam buku ‘nama-nama indah untuk bayi dan artinya’. Hujan turun terus, sampai saya sadar kalau memang sedang musim hujan. Jarang bertemu teman, saya jadi jarang membuat jokes tidak lucu yang ujung-ujungnya tetap ditertawakan karena lucu. Humph.


Oh iya, ini aneh sekaligus tidak penting, tapi belakangan ini setiap hari setiap menengok jam, angkanya selalu kembar. Siapa yang rindu? Mengakulah.

Wednesday, January 8, 2014

Ironi.

Aku telah jatuh cinta.

H..hei, tidak sopan bertanya siapa. Takkan kuberitahu. Singkirkan tanganmu dariku, atau..hei! Oke, oke. Singkat saja ya.

Umurnya dua puluh enam. Setidaknya itu yang dikatakan orang-orang. Tubuhnya agak bungkuk dan warna kulitnya pucat, dapat kupastikan dia jarang berolahraga. Rambutnya hitam, berantakan. Selalu berantakan. Setiap kali kuacak-acak rambutnya setelah dia berusaha membuatnya terlihat rapih. Dia tidak marah, malah tersenyum sembari menciumku dengan gemas. Dia adalah pria dengan lesung pipi tertampan yang pernah kukenal. Aku suka caranya mengelus ubun-ubunku, rasanya hangat.

Warna matanya coklat tua. Aku suka caranya menatapku. Dalam dan luas. Aku ingin berteduh lama-lama di sana. Tapi..ah tidak, tidak. Aku lebih suka saat dia tidur. Kau tahu, manusia lebih jujur saat tidur. Wajah lugu dan lelahnya yang tidak artifisial. Aku biasa membasuh peluhnya di kala dia bermimpi buruk.

Aku jatuh cinta, bahkan sebelum mendengar suaranya. Dia jarang berbicara, pada orang lain maupun padaku. Padahal aku suka sekali suaranya. Berat, namun lembut. Aku suka suaranya kala berbisik, terdengar menenangkan sekaligus membangunkan. Membangunkan apalagi? Jangan pura-pura tidak mengerti.

Setiap malam kami bersama dalam diam. Aku memejamkan mata, hanyut di pangkuannya. Dia membaca buku, sesekali melihatku. Kami berbagi kue kering dan susu hangat. Cara makannya seperti anak kecil, berantakan. Aku yang membersihkan remah-remah kue di kemeja jeans lusuh kesayangannya. Dia tersenyum lagi. Aku ingin sekali dia tahu perasaanku padanya. Tapi itu tidak mungkin.

Seekor kucing tidak bisa terlalu mencintai tuannya sendiri.

(Lagipula, seindah apapun ungkapan rasa cinta yang kuutarakan, yang terdengar di telinganya hanya suara mengeong)