Aku telah jatuh cinta.
H..hei, tidak sopan bertanya siapa. Takkan kuberitahu. Singkirkan tanganmu dariku, atau..hei! Oke, oke. Singkat saja ya.
Umurnya dua puluh enam. Setidaknya itu yang dikatakan orang-orang. Tubuhnya agak bungkuk dan warna kulitnya pucat, dapat kupastikan dia jarang berolahraga. Rambutnya hitam, berantakan. Selalu berantakan. Setiap kali kuacak-acak rambutnya setelah dia berusaha membuatnya terlihat rapih. Dia tidak marah, malah tersenyum sembari menciumku dengan gemas. Dia adalah pria dengan lesung pipi tertampan yang pernah kukenal. Aku suka caranya mengelus ubun-ubunku, rasanya hangat.
Warna matanya coklat tua. Aku suka caranya menatapku. Dalam dan luas. Aku ingin berteduh lama-lama di sana. Tapi..ah tidak, tidak. Aku lebih suka saat dia tidur. Kau tahu, manusia lebih jujur saat tidur. Wajah lugu dan lelahnya yang tidak artifisial. Aku biasa membasuh peluhnya di kala dia bermimpi buruk.
Aku jatuh cinta, bahkan sebelum mendengar suaranya. Dia jarang berbicara, pada orang lain maupun padaku. Padahal aku suka sekali suaranya. Berat, namun lembut. Aku suka suaranya kala berbisik, terdengar menenangkan sekaligus membangunkan. Membangunkan apalagi? Jangan pura-pura tidak mengerti.
Setiap malam kami bersama dalam diam. Aku memejamkan mata, hanyut di pangkuannya. Dia membaca buku, sesekali melihatku. Kami berbagi kue kering dan susu hangat. Cara makannya seperti anak kecil, berantakan. Aku yang membersihkan remah-remah kue di kemeja jeans lusuh kesayangannya. Dia tersenyum lagi. Aku ingin sekali dia tahu perasaanku padanya. Tapi itu tidak mungkin.
Seekor kucing tidak bisa terlalu mencintai tuannya sendiri.
(Lagipula, seindah apapun ungkapan rasa cinta yang kuutarakan, yang terdengar di telinganya hanya suara mengeong)
No comments:
Post a Comment