Friday, January 17, 2014

Cari Angin di Luar Museum Keprajuritan Indonesia

Anak Jakarta atau yang pernah ke Jakarta pasti kenal dengan tempat wisata TMII a.k.a Taman Mini Indonesia Indah. TMII ini tuh versi kecilnya Nusantara, karena di tempat ini ada bermacam-macam ikon budaya dari banyak suku di Nusantara, contohnya rumah adat. Selain itu, ada banyak sekali museum di sana, seperti Museum Listrik, Museum Serangga, Museum Olahraga dan masih banyak lagi. TMII merupakan alternatif tempat wisata yang cocok untuk anak-anak, karena memiliki nilai budaya dan edukasi yang tinggi, namun tetap dikemas dengan fun dan playful. Tidak heran bila TMII sering dijadikan tujuan karyawisata dari sekolah-sekolah. Nah, kalau yang sudah pernah ke sini pasti tahu dong bangunan di bawah ini?

























Yap, benteng yang keren ini (apalagi kalau lihat langsung) adalah Museum Keprajuritan Indonesia. Cukup dengan mengorek kocek sebesar 2500 rupiah saja untuk bisa masuk ke dalam area museum. Museum ini menyajikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sangat disayangkan bagian dalam yakni ruang diorama penerangannya kurang dan sedikit kotor seperti tidak terawat. Yang mau belajar harus masuk ke dalam, kelas menengah alay yang mau foto-foto juga bisa foto di atas danau sampai di tangga darurat.

Sebenarnya pas di dalam rada ngeri karena ruangannya gelap (pake banget) jadi jalannya buru-buru. Ditambah banyak patung-patung yang disinari cahaya minim, makin pingin cepet-cepet keluar. Hasilnya ya enggak sempat lihat apa-apa. Susah ya kalau takut gelap.

Jadi saya nggak mau bahas dulu ada apa di dalam benteng angker itu, melainkan apa yang ada di sekitarnya. Bukan membahas juga sih, cuma pamer foto. Oh, maafkan kalau di sebagian besar foto ada anak kecil berbaju biru. Bukan, bukan penunggu museum, itu adik saya. Dan waktu itu mendung jadi suasana fotonya agak-agak sendu tidak berwarna.

Perairan persis di depan benteng. Tenang, kita gak harus berenang untuk mencapai benteng.
























Di ujung perairan, persis menempel dekat jembatan ada dua kapal tradisional yaitu Kapal Pinisi dan Kapal Banten, tapi yang kefoto cuma satu (uh maaf). Foto yang di bawah ini adalah Kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan. Bisa naik ke atasnya loh, bukan sekedar pajangan doang.


Kapal Pinisi
























Jembatannya goyang-goyang. Saya takut air, jadi terlihat konyol waktu menyebrang, sampai terpaksa disalip beberapa pengunjung karena berjalan terlalu lama.
























Di atas kapal Pinisi! Adik saya minta difoto biar kesannya naik kapal beneran.
























Jembatan menuju benteng.
























Di sekitar perairan dan benteng juga ada taman, banyak pohon rindang dan kursi untuk duduk-duduk manis. Yang mau selonjoran sambil ngemil bareng keluarga, teman, atau pacar bisa banget. Wisata yang cukup murah kan? :p (tapi jangan dihitung sama tiket masuk TMII-nya ya)

No comments:

Post a Comment