Januari sudah berjalan separuh bulan, saya masih pengangguran. Hari ini pun masih. Sebenarnya saya sedang ada pekerjaan, menjadi joki tugas mata kuliah Eastern Art adik saya. Tapi rupanya menjadi joki tidak semenyenangkan kelihatannya, apalagi tugasnya adalah membuat paper analisa seni dari mata kuliah yang dulu jarang saya hadiri (saya selalu tidur di luar kelas).
Semakin sore saya semakin murung. Jus kombinasi bayam dan pisang yang saya buat terlalu banyak air. Ibu masak rendang sapi padahal saya tidak bisa makan daging itu. Kerupuk seblak yang dulu selalu bikin saya nangis sekarang tidak pedas lagi. Iseng ke toko buku, masih belum ada nama saya di dalam buku ‘nama-nama indah untuk bayi dan artinya’. Hujan turun terus, sampai saya sadar kalau memang sedang musim hujan. Jarang bertemu teman, saya jadi jarang membuat jokes tidak lucu yang ujung-ujungnya tetap ditertawakan karena lucu. Humph.
Oh iya, ini aneh sekaligus tidak penting, tapi belakangan ini setiap hari setiap menengok jam, angkanya selalu kembar. Siapa yang rindu? Mengakulah.
Semakin sore saya semakin murung. Jus kombinasi bayam dan pisang yang saya buat terlalu banyak air. Ibu masak rendang sapi padahal saya tidak bisa makan daging itu. Kerupuk seblak yang dulu selalu bikin saya nangis sekarang tidak pedas lagi. Iseng ke toko buku, masih belum ada nama saya di dalam buku ‘nama-nama indah untuk bayi dan artinya’. Hujan turun terus, sampai saya sadar kalau memang sedang musim hujan. Jarang bertemu teman, saya jadi jarang membuat jokes tidak lucu yang ujung-ujungnya tetap ditertawakan karena lucu. Humph.
Oh iya, ini aneh sekaligus tidak penting, tapi belakangan ini setiap hari setiap menengok jam, angkanya selalu kembar. Siapa yang rindu? Mengakulah.
No comments:
Post a Comment