Friday, February 26, 2016

Apakah iya apakah tidak.

Aku tidak pandai bersembunyi, tuan.
Setiap kali aku melakukannya,
mereka menemukan persembunyianku
pada lipatan kertas-kertas tua.
Aku juga tidak pandai merindu, tuan.
Setiap kali aku melakukannya,
mereka menemukan bercak rinduku
pada lipatan kertas-kertas tua lainnya.
Kau menunduk lama sekali, tuan.
Aku tidak akan menatap lantang lagi.
Sebab, jangan-jangan engkau sudah bosan
melihat rindu yang itu-itu saja?
Mungkin aku harus menyudahinya, tuan?
Kalau tidak, aku memohon tanda darimu, semesta yang temaram.
Kalau iya, tolong tiup rinduku sampai benar padam.

Surat kaleng.

Pengorbanan itu tidak pernah ada;

Batu-batu tidak pernah membenci,
kepada tanah yang mengotorinya
kepada rintik hujan pagi petang
yang bersekutu dengan waktu
mengikis rupa yang bukan rupanya.

Daun-daun tidak pernah mendengki,
kepada ranting yang mengikatnya
kepada angin yang menggugurkannya
juga kepada punggung-punggung kaki
yang membumikannya.

Sungguh perempuan yang menulis surat ini
tidak pernah mendendam,
kepada pedas ucap dari katup bibir pucat
kepada besar tiara dalam menara ego
yang pernah kau selipkan dalam rusuknya.

Sayangku,
pengorbanan itu tidak pernah ada.

...

Sayangku,

sungguh aku tidak pandai berbahasa raga
mengucap cinta pun tak kunjung fasih
Hanya lewat surat jelek ini kubangun dermaga
di mana bermuarakan seluruh kasih..

..kepada lelaki air
yang sudah dua puluh empat tahun lamanya
ia menjelma bentara kehidupan.


Selamat berulang tahun, Pandri.
Sebanyaknya doa tersemat.