Saturday, December 28, 2013

Percakapan - Percakapan Yang Tidak Tahu Kenapa.

D: Aku baru beli sepatu, minggu besok lari pagi yuk? 
S: Sejak kapan? Boleh saja. Tapi siangnya aku mau ke toko buku.
D: Kuantar ya. Aku juga mau lihat-lihat buku. 
S: Sejak kapan?
D: Oh, hmm..sudah lama. Kamu tidak tahu? 
S: Kalau kubilang aku suka anak kecil, apa kau juga mau membuatnya untukku?

---

D: Aku bawa bunga untukmu. 
S: ....ah.
D: Kenapa? Tidak suka bunganya? 
S: Suka, kalau tidak kau petik. Mengapa tidak kau bawa saja aku ke kebun bunga? Di sana mereka tidak perlu mati untuk melihatku tersenyum. Aku tidak bahagia menerima bangkai-bangkai. Sekarang aku jadi kepikiran, bila bunga-bunga tersebut menghadiri pemakaman sahabatnya, apa mereka akan mengorbankan dirinya untuk ditabur di atas makam sahabatnya?

---

D: Kau memandangi langit terus. Ada apa? 
S: Aku suka awan.
D: Apa yang menarik dari gumpalan-gumpalan putih di langit yang bergerak lambat itu? Membosankan. 
S: Aku suka yang membosankan.
D: Maksudmu, aku? 
S: Aku iri kepada para pendaki. Aku di bawah sini harus mendongak untuk melihat awan. Bandingkan apabila aku mendaki hingga puncak gunung, awan lah yang harus mendongak untuk melihatku. Sayangku, bagaimana rasanya menjadi angkuh?

Saturday, December 7, 2013

Tiramisu.

Satira. Aneh sekali orangtuanya, kok menamai anaknya seperti itu. Tira, Satira. Satir. Haha.. dan sesuai namanya, gadis itu begitu pandainya memainkan kata-kata. Lelucon yang terlontar dari mulutnya selalu menyebalkan, tapi lucu. Yang lebih menggemaskan, ia tak pernah menertawai leluconnya sendiri. Bagaimanapun gaya bercandanya yang satir namun cerdik membuatnya semakin istimewa. Setidaknya bagiku.

"Ga..buruan Ga mau gue kunci. Dirga!"

Dirga melamun lagi. Dan subyek lamunannya masih tentang Satira. Entah sampai kapan. Pukul delapan malam, kantor sudah sepi, menyisakan ia dan Alex (yang namanya juga aneh karena dia perempuan) yang dandanannya luntur saking stres mengerjakan revisi dari si klien brengsek. Bisa mati muda gue setiap hari begini, gerutu Alex. Di luar emosinya yang tak pernah stabil, Alex adalah sahabat yang baik dan setia. Ia juga yang datang ke kamar kost Dirga dengan membawa sebaskom es krim rasa vanilla saat itu. Saat Satira mencekik hati Dirga lewat telepon genggam. "Habisin ya, sampai brainfreeze kalau perlu". Lalu ia hanya duduk diam di samping Dirga, tanpa bertanya sepatah kata pun sampai es krim benar-benar habis dan ia memeluk Dirga yang menangis. Itulah Alex, sahabat terbaik Dirga.

...

"Ga, dompet gue ketinggalan. Lo nunggu di dalam kafe aja deh ya sambil nunggu hujan reda, gue balik ke kantor sebentar. Oh iya, a cup of hot jasmine tea and a slice of tiramisu cake, please. Thanks, darl."

"Banyak mau kamu, Lex", cibir Dirga.

Dirga mengibas lalu menutup payungnya. Masuklah ia ke dalam kafe. Harum kopi dan cokelat. Setelah menaruh jaketnya yang basah dan istirahat barang sepuluh menit, ia menuju kasir. Dirga hendak mengambil dompet yang terselip dalam ransel lusuhnya dan memesan kopi, sampai kemudian sebuah suara yang tak asing terdengar. "Silahkan, mau pesan apa?" "Satu cappucino, satu jasmine tea, hangat, sa.."

Satira? Dirga tercengang. Rasanya ia ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar. "Tira? Kok..". Kalimatnya terhenti. Satira yang di hadapannya saat ini begitu dingin. "Ada lagi?" Ia tersenyum namun matanya tidak menatap Dirga. Ia menyimpan sesuatu dan Dirga tidak tahu apa itu. "Tira.. ah, maaf. Tiramisu. Satu Tiramisu."

Satira menyodorkan sepiring kue Tiramisu kepada Dirga. Bibirnya bergerak lembut, sedikit gemetar. Ia mendongak.

I miss you too, Ga.

...

Sementara itu di luar kafe, Alex membuka kembali payung kuning kesukaannya lalu berbalik arah menuju minimarket terdekat, membeli es krim rasa vanila. Tak pernah ia benar-benar membenci hujan sampai hari ini tiba.