Monday, April 28, 2014
Saturday, April 26, 2014
Saturday, April 12, 2014
Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa
![]() |
| tinta di atas kertas. |
Masih tentang lagu-lagu lokal kesayangan saya (ayo ayo cintai karya seni negeri sendiri!). Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa, adalah sebuah tembang syahdu dari penyanyi asal Yogyakarta, Frau.
Saya tidak mengerti istilah-istilah dalam musik, tapi menurut saya sebagai orang awam lagu ini terasa begitu magis. Saya merinding waktu pertama kali mendengarnya. Selain alunan nada-nada minor yang cantik dalam musiknya, kata-kata dalam liriknya juga begitu puitis dan indah sekali, ditambah duet suara merdu Lani yang khas dan suara berat serak si-penyanyi-laki-laki-yang-maaf-sekali-saya-tidak-tahu-namanya membuat saya hanyut selama lagu ini diputar. Saya merasa benar-benar di luar angkasa bersama pasangan saya yang sebenarnya tidak ada. Terimakasih atas karyamu, Frau.
Labels:
artwork,
cerita saya
Friday, April 11, 2014
No Fruits For Today
No Fruits For Today adalah sebuah lagu dari salah satu band indie lokal favorit saya, SORE.
Tadi sore ibu membawakan dua buah pisang, di saat yang sama saya sedang mendengar lagu ini. Ini pasti sesuatu. Oke itu berlebihan, sebenarnya tidak lebih dari tangan gatel, iseng coret-coret pisang. Saya suka sekali dengan lagu ini, cantik. Lagu ini sering sekali saya putar saat begadang, sore-sore sendu dengan segelas teh dan kerupuk (kenapa kerupuk?), dan begadang. Iya, saya terlalu banyak begadang. Selamat malam, semesta.
Tuesday, April 1, 2014
Surat Untuk Dia yang Merayakan Tanggal 19 Februari.
Halo. Sudah lama tidak menulis, pas ngintip draft ternyata numpuk banyak banget. Bahaya, suamiku nanti bisa jadi brewokan. Di dalam tumpukan draft, ada satu surat untuk salah seorang kawan yang tidak kunjung terkirim, padahal ulangtahun-nya sudah lewat sebulan lalu. Akan saya tuliskan di sini saja, mungkin bisa selamanya tidak terbaca, mungkin tidak. Saya terlalu pemalu.
Kepada,
Perempuan yang terlalu rapuh untuk merasa kesepian,
Aku tidak mau menyebutkan nama.
Aku tahu saat membacanya kelak, kamu akan langsung mengejek tulisan ini. Sok berpujangga, seperti katamu dulu. Sayangnya, sok atau tidak aku akan tetap menulis. Aku ingin jadi vampir, yang jiwanya tetap tinggal dalam tulisan walau raganya sudah membusuk di dalam nisan. Lagipula aku sudah sering curhat dengan keyboard sejak sebelum bertemu kamu. Jangan seolah-olah kamu tidak pernah punya buku harian, wek.
Ah, lupakan. Jadi begini, aku bosan berguyon mengucapkan dengan cara yang itu-itu saja. Jadi kali ini kubawakan dengan cara sedikit menjijikkan. Cara yang tidak kamu suka, kawan.
Tahun ini aku membuatkan sebuah gambar untukmu. Lagi. Tidak kulampirkan di sini, sayang sekali. Mungkin kamu sudah bosan, mungkin tidak. Hadiah paling murah yang bisa kuberikan yang hanya bermodalkan tinta dan kertas. Tapi percayalah, ada ketulusan yang mengendap pada setiap detik yang hangus saat aku menggambarnya. Maaf bila mengecewakanmu, tapi suatu hari nanti saat kita berdua masih hidup akan kuberi yang lebih baik dan mahal daripada ini, kubeli dengan uang hasil keringatku. Aku minta maaf.
Maaf bila hadiah dariku tidak semewah jersey orisinil atau tiket rave party, atau seistimewa kehadiran seorang laki-laki dalam perjalananmu. Tidak apa, seorang kawan yang kehilangan antusiasme biasanya memang sedang dimabuk cinta. Walaupun begitu, terimakasih untuk tetap ada. Awet ya, selama-lamanya. Jangan lagi menelponku berjam-jam hanya saat patah hati, lain kali bawalah kabar baik. Sekali lagi aku minta maaf, tidak ngomong langsung malah menulis di sini. Duh, aku terlalu banyak mengucapkan maaf. Sudahlah.
Selamat ulang tahun, bangsat. Bahagia dan penuh selalu. Jaga egomu.
I love you.
Dari,
seorang kawan yang masih sayang sekali padamu.
P.S: ternyata lama-lama lucu juga disangka biseks. pendek sekali pikiran orang-orang itu.
Aku Ingin Menjadi..
Kau adalah sekeras-kerasnya lengking peluit kereta api.
Apalah aku, hanya bisa membungkuk menanti di peron,
tak punya petunjuk kapan kereta tiba di stasiun.
Kau adalah selembut-lembutnya harum petrikor pada hujan pertama di bulan Oktober.
Apalah aku, yang hanya ingin menjadi tanah gersang yang merayu mesra sekelompok awan.
Kau adalah sebising-bisingnya guratan tinta pada sore yang bising.
Dan apalah aku, aku hanya ingin menjadi lembar buku tua dengan segala ketulusannya.
Di sana masing-masing kita membagi jejak, selebihnya kau dan aku tak lagi berjarak.
tak punya petunjuk kapan kereta tiba di stasiun.
Kau adalah selembut-lembutnya harum petrikor pada hujan pertama di bulan Oktober.
Apalah aku, yang hanya ingin menjadi tanah gersang yang merayu mesra sekelompok awan.
Kau adalah sebising-bisingnya guratan tinta pada sore yang bising.
Dan apalah aku, aku hanya ingin menjadi lembar buku tua dengan segala ketulusannya.
Di sana masing-masing kita membagi jejak, selebihnya kau dan aku tak lagi berjarak.
Subscribe to:
Posts (Atom)



