Bukan berarti aku tidak menyukai senja, tapi bukan tanpa alasan pula aku menyukai fajar. Dulu aku menyukai senja, sangat menyukainya. Hampir setiap sore saat benar-benar sendirian, aku menjelma mayat hidup yang ingin menelan matahari yang sedang turun itu, hidup-hidup. Hampir setiap sore aku mencoba mencumbu langit jingga yang angkuh nan rupawan, membayangkan berenang-renang di balik awan, hingga ia mencampakkan aku dalam gelap malam. Senjaku yang angkuh dan birahi.
Aku benci langit malam.
Ah..kecuali ada bintang-bintang, tanpa mereka sisanya hanya malam yang hitam dan menyebalkan. Pada akhirnya sesuatu, atau seseorang, memberi tahu bahwa yang kubenci sebenarnya adalah Ibukota. Kau tahu kenapa.
...
Suatu pagi yang beku, hidungku kaku. Aku terjaga kemudian, menyingkap selimut yang semacam tak berguna karena pagi itu begitu dingin. Dengan susah payah kuseret kakiku keluar kamar, kuraih sepatu roda yang baru saja kubeli beberapa hari lalu. Dengan tergesa-gesa aku memakai jaket tebal -karena pagi itu begitu dingin- sambil menenteng sepatu roda dan berlari-lari kecil menuju sepupuku yang sudah menunggu di ambang pintu.
Pagi yang aneh dan biru tua. Matahari belum muncul di ufuk timur tapi ayam sudah berkokok. Ah, bisa apa aku ini, mengomentari ayam kepagian tersebut. Tapi tetap saja semesta itu aneh! Sudahlah, kataku seraya menyeka sisa darah di lutut. Rupanya aku terjatuh, sialan benar sepatu roda itu. (Kelak aku berhenti main sepatu roda semenjak menemukan anak tikus di dalamnya, yaiks).
Selagi mengeluhkan perihnya luka, langit memanggilku, aku pun menoleh. Saat itu juga aku tahu bahwa aku telah berkhianat; mengkhianati senja yang amat kusukai. Bila senja dapat menulis, habislah aku dibakar tinta jingganya yang menyala terang. Fajar naik dengan malu-malu. Tidak, bukan fajar yang naik, tapi matahari. Persetan siapa yang naik, ruhku terlanjur terhisap garis merah biru di balik satu-dua pohon mangga tetangga. Kemudian gelap menjadi terang. Tuhan Yang Baik, Engkau begitu sederhana. Kau ciptakan racun beserta penawarnya. Kau ciptakan fajar untuk menghapus gelap malam yang kubenci, yang diam dan mati. Kau ciptakan fajar yang istimewa, karena tidak semua mata menyaksikannya, tidak semua orang terjaga saat kau datang. Celaka, aku lupa sedang di mana. Aku lupa aku kedinginan. Aku lupa kakiku luka dan itu sangat sakit. Aku lupa pada senja. Senjaku yang angkuh nan rupawan. Senjaku yang haus perhatian, yang dielu-elukan orang.
Senjaku yang angkuh dan glamor, seolah-olah dirimu hanya seorang pelacur, kulacuri kau sampai redup untuk kutinggalkan. Tapi tidak, dalam beberapa tahun ke depan aku mulai benar-benar membencimu. Senjaku yang angkuh dan malang, Ayahku tidak pernah tidur di rumah lagi sejak senja terakhir di bulan April. Ia pulang untuk kemudian pergi lagi saat kau datang. Bukan kau penyebabnya, aku tahu, tapi kamu ada saat itu dan tidak menahan Ayahku. Bodoh benar aku ini, memutuskan untuk membencimu yang diam.
...
Sore ini hangat, rasanya angin seperti hembusan nafas malaikat. Ibukota masih sama menyebalkannya, lihat saja aku di sini, di dalam salah satu kotak besi yang sesekali batuk asap hitam, diam tak bergerak. Lalu kau datang, senjaku yang dibenci. Kau datang bagai masa lalu, setengah gairah, setengah airmata. Mungkin semesta yang sudah terlalu tua, atau kau yang terlihat begitu lelah. Sudah cukup, jauhkan ia dariku. Aku tak sanggup melihatnya begitu tua dan membosankan, rapuh dan mati. Di luar, orang-orang mengagungkan senjaku. Mereka tak tahu kau menderita. Sial, terulang lagi. Kau bukan lagi milikku, tak pantas kupanggil kau 'senjaku'. Aku ya aku, senja ya senja.
Sialan, jatuh juga airmata ini. Wahai senja yang tua dan malang, maafkanlah aku. Mungkin kau akan tetap diam, tapi inilah yang sebenarnya. Dari sepuluh tahun lalu, aku sudah tahu rasanya dikhianati dan mengkhianati, seperti bagaimana kukhianati engkau, atau seperti pengkhianatan Ayah kepada Ibu. Aku tahu rasanya ditinggalkan, aku tidur sendiri sekarang, tentu saja kau tahu kenapa. Aku tahu rasanya dicabuli, tak bisa kujelaskan sekarang. Hingga hari ini, aku tahu rasanya tak diketahui. Aku dianggap merah, sebenarnya abu. Aku tahu kau pun sepertiku, aku tahu. Orang-orang tidak tahu. Maafkan aku, senja. Maafkan aku, sahabatku yang hadir kala penat dan menghilang tanpa amanat. Terakhir, maafkan aku yang masih menyukai fajar.
Aku selalu menyukai fajar. Tidak, aku mencintainya. Fajar yang malu-malu dan tidak selalu hadir saat kubutuhkan. Fajar yang hanya kumiliki hatinya namun tidak raganya. Fajar yang diciptakan dengan sangat sederhana.






















































