Tuesday, November 26, 2013

Tentang Fajar dan Senja.

Aku selalu menyukai fajar.

Bukan berarti aku tidak menyukai senja, tapi bukan tanpa alasan pula aku menyukai fajar. Dulu aku menyukai senja, sangat menyukainya. Hampir setiap sore saat benar-benar sendirian, aku menjelma mayat hidup yang ingin menelan matahari yang sedang turun itu, hidup-hidup. Hampir setiap sore aku mencoba mencumbu langit jingga yang angkuh nan rupawan, membayangkan berenang-renang di balik awan, hingga ia mencampakkan aku dalam gelap malam. Senjaku yang angkuh dan birahi.

Aku benci langit malam. 

Ah..kecuali ada bintang-bintang, tanpa mereka sisanya hanya malam yang hitam dan menyebalkan. Pada akhirnya sesuatu, atau seseorang, memberi tahu bahwa yang kubenci sebenarnya adalah Ibukota. Kau tahu kenapa.

...

Suatu pagi yang beku, hidungku kaku. Aku terjaga kemudian, menyingkap selimut yang semacam tak berguna karena pagi itu begitu dingin. Dengan susah payah kuseret kakiku keluar kamar, kuraih sepatu roda yang baru saja kubeli beberapa hari lalu. Dengan tergesa-gesa aku memakai jaket tebal -karena pagi itu begitu dingin- sambil menenteng sepatu roda dan berlari-lari kecil menuju sepupuku yang sudah menunggu di ambang pintu. 

Pagi yang aneh dan biru tua. Matahari belum muncul di ufuk timur tapi ayam sudah berkokok. Ah, bisa apa aku ini, mengomentari ayam kepagian tersebut. Tapi tetap saja semesta itu aneh! Sudahlah, kataku seraya menyeka sisa darah di lutut. Rupanya aku terjatuh, sialan benar sepatu roda itu. (Kelak aku berhenti main sepatu roda semenjak menemukan anak tikus di dalamnya, yaiks). 

Selagi mengeluhkan perihnya luka, langit memanggilku, aku pun menoleh. Saat itu juga aku tahu bahwa aku telah berkhianat; mengkhianati senja yang amat kusukai. Bila senja dapat menulis, habislah aku dibakar tinta jingganya yang menyala terang. Fajar naik dengan malu-malu. Tidak, bukan fajar yang naik, tapi matahari. Persetan siapa yang naik, ruhku terlanjur terhisap garis merah biru di balik satu-dua pohon mangga tetangga. Kemudian gelap menjadi terang. Tuhan Yang Baik, Engkau begitu sederhana. Kau ciptakan racun beserta penawarnya. Kau ciptakan fajar untuk menghapus gelap malam yang kubenci, yang diam dan mati. Kau ciptakan fajar yang istimewa, karena tidak semua mata menyaksikannya, tidak semua orang terjaga saat kau datang. Celaka, aku lupa sedang di mana. Aku lupa aku kedinginan. Aku lupa kakiku luka dan itu sangat sakit. Aku lupa pada senja. Senjaku yang angkuh nan rupawan. Senjaku yang haus perhatian, yang dielu-elukan orang.

Senjaku yang angkuh dan glamor, seolah-olah dirimu hanya seorang pelacur, kulacuri kau sampai redup untuk kutinggalkan. Tapi tidak, dalam beberapa tahun ke depan aku mulai benar-benar membencimu. Senjaku yang angkuh dan malang, Ayahku tidak pernah tidur di rumah lagi sejak senja terakhir di bulan April. Ia pulang untuk kemudian pergi lagi saat kau datang. Bukan kau penyebabnya, aku tahu, tapi kamu ada saat itu dan tidak menahan Ayahku. Bodoh benar aku ini, memutuskan untuk membencimu yang diam.

...

Sore ini hangat, rasanya angin seperti hembusan nafas malaikat. Ibukota masih sama menyebalkannya, lihat saja aku di sini, di dalam salah satu kotak besi yang sesekali batuk asap hitam, diam tak bergerak. Lalu kau datang, senjaku yang dibenci. Kau datang bagai masa lalu, setengah gairah, setengah airmata. Mungkin semesta yang sudah terlalu tua, atau kau yang terlihat begitu lelah. Sudah cukup, jauhkan ia dariku. Aku tak sanggup melihatnya begitu tua dan membosankan, rapuh dan mati. Di luar, orang-orang mengagungkan senjaku. Mereka tak tahu kau menderita. Sial, terulang lagi. Kau bukan lagi milikku, tak pantas kupanggil kau 'senjaku'. Aku ya aku, senja ya senja. 

Sialan, jatuh juga airmata ini. Wahai senja yang tua dan malang, maafkanlah aku. Mungkin kau akan tetap diam, tapi inilah yang sebenarnya. Dari sepuluh tahun lalu, aku sudah tahu rasanya dikhianati dan mengkhianati, seperti bagaimana kukhianati engkau, atau seperti pengkhianatan Ayah kepada Ibu. Aku tahu rasanya ditinggalkan, aku tidur sendiri sekarang, tentu saja kau tahu kenapa. Aku tahu rasanya dicabuli, tak bisa kujelaskan sekarang. Hingga hari ini, aku tahu rasanya tak diketahui. Aku dianggap merah, sebenarnya abu. Aku tahu kau pun sepertiku, aku tahu. Orang-orang tidak tahu. Maafkan aku, senja. Maafkan aku, sahabatku yang hadir kala penat dan menghilang tanpa amanat. Terakhir, maafkan aku yang masih menyukai fajar.

Aku selalu menyukai fajar. Tidak, aku mencintainya. Fajar yang malu-malu dan tidak selalu hadir saat kubutuhkan. Fajar yang hanya kumiliki hatinya namun tidak raganya. Fajar yang diciptakan dengan sangat sederhana.

Sunday, November 3, 2013

Menyaksikan Matahari Terbit Di Timur Borobudur

(Magelang - Jawa Tengah, 30 Oktober 2013)

Sekali-kali pingin merasakan suasana alam Magelang lewat candi Buddhis terbesar di dunia, Borobudur saat matahari terbit, jadilah aku mencari tahu bagaimana caranya. Ternyata untuk melihat sunrise maupun sunset di Candi Borobudur kita harus memesan paket dari Hotel Manohara yang terletak di kawasan candi. Harga tiket untuk program Borobudur Sunrise ini terbilang cukup mahal, bahkan menurutku terlalu mahal. Candi Borobudur buka pukul 6.00 pagi dengah harga tiket masuk normalnya Rp 30.000 untuk turis domestik dewasa. Sedangkan bila ingin melihat sunrise, kita hanya bisa membeli tiket khusus dari Manohara Hotel yang memonopoli bekerjasama dengan Borobudur seharga Rp 250.000 (domestik dewasa). Beda beberapa jam doang harganya jauh banget kan??

Karena sudah terlanjur ke Yogya, ya sudah aku rela dirampok mau ikut paket Borobudur Sunrise karena memang penasaran juga. Dulu aku ke sini pas siang bolong, sekarang pengen ngerasain dari masih gelap sudah leyeh-leyeh di puncak candi. Akhirnya aku menginap semalam di De Borobudur Hotel (kalau menginap di Manohara terlalu mahal) untuk pagi-pagi sekali langsung cabut ke Manohara Hotel untuk beli tiket. 

Pukul 4.15 dini hari, aku berangkat naik motor dari tempatku nginap menuju Manohara, jaraknya kira-kira 1 km. Dinginnya bok, pipis di atas motor juga langsung beku kali. Jagoan banget lagi gak pakai baju hangat, habis ga terpikir bakal lihat sunrise begini. Sampai di Manohara dan beli tiket, 4.30 kami pun berjalan menuju puncak Candi Borobudur. Pikiranku Borobudur itu tinggi banget, jadi sudah takut rugi aja kalau ga sampai di puncak pas matahari terbit. Tapi ternyata cuma 5 - 8 menit sudah sampai di puncak.

Saat matahari mulai naik, pemandangannya cukup awesome di atas sini. Kenapa cuma cukup? Soalnya waktu itu agak mendung, tapi tetep bagus kok lumayan. Terlihat pohon-pohon dan gunung yang tertutup kabut, Merapi, Dieng dan lainnya yang aku belum tahu juga terlihat dari sini. 

Kalau tidak salah itu Gunung Merapi. Kalau salah ya maafkan.



















Kayak lukisan ya.




















Turis asing yang hampir setengah jam motretin stupa di sana gak kelar-kelar.
5:00 Mataharinya mulai kelihatan.

Sudah agak siang, sekitar pukul 6 pagi. Mulai banyak yang datang karena Borobudur sudah dibuka.


Narsis itu perlu.
























Oh iya, kain sarung untuk pengunjung dari Manohara (yang ikut program sunrise) warnanya dibedakan dengan pengunjung biasa. Aku dapat warna jingga sedangkan yang biasa dapat warna ungu.

Kembali dari Borobudur menuju Manohara, melewati taman.























Sampai di Manohara lagi dan mengembalikan sarung, kami disuguhi sarapan, yang ternyata cuma pisang goreng dan kue bolu sepotong, minumnya bisa pilih kopi atau teh. Dapat souvenir kain batik juga.


ini pemandangan di depannya langsung candi Borobudur loh.
























Sepulangnya dari Borobudur, aku sempat mengunjungi Candi Pawon dan Candi Mendut. Tiket masuknya cukup Rp 3000 saja, itu buat 2 candi.

Candi Pawon yang kalah pamor dengan Borobudur.

Penjual wayang dan topeng di sebelah Candi Pawon.


Candi Mendut.





















Arca Dhyani Buddha Wairocana di dalam Candi Mendut.


































































Meninggalkan Magelang, kami kembali ke Sleman, makan siang, tidur di kafe sambil menghabiskan waktu karena pesawatnya boarding jam 7 malam *hiks
























Berangkatnya kece, pulangnya gembel. Sekarang mari pulang ke Jakarta dan beli Anlene. *sumpah sakit pinggang*

Saturday, November 2, 2013

Aku kembali, Yogya.




(Yogyakarta, 28 - 30 Oktober 2013)

"Kamu baru balik dari Thailand sudah mau jalan lagi. Gak ada puasnya?", kira-kira seperti itulah tanggapan Ibuku waktu aku minta izin travelling ke Yogyakarta. 

Rasanya menyenangkan mencoba kabur dari zona nyaman; lupakan masalah di rumah, mengepak barang, lupakan rasa takut naik pesawat, pergi jauh, bertemu orang asing dan membagi harimu bersamanya, melakukan dan membicarakan apa saja. Manusia bisa berubah ke mana saja, mencari tahu apa saja.

Di penghabisan bulan Oktober tahun ini, aku memilih Yogyakarta sebagai tujuan pelarianku dari sesaknya ibukota.  Ini bukan kali pertamaku singgah di Yogyakarta. 9 tahun lalu aku pernah ke sana, tetapi hanya dalam sebuah program karya wisata dari sekolah. Nah kali ini aku mencoba nekad, untuk pertama kalinya bepergian keluar kota sendirian. Walaupun akhirnya aku kopi darat dengan kenalan dari tumblr yang memang tinggal di sana dan menemaniku selama empat hari di Yogya, Ricky. Dia mah orang Yogya-yogya-an, masa di daerah sendiri bisa nyasar. *ga ngaca ga ngaca*


Day 1

Pukul 6.30 WIB mendarat di Bandara Internasional Adi Sucipto, Sleman, aku dijemput temanku. Setelah sarapan nasi kuning, kami langsung jalan menuju Candi Prambanan. Oh iya, tepat hari ini kata temanku matahari sedang tepat di atas Yogya, jadi hari itu cuacanya memang lumayan panas (walaupun kalau dibandingkan dengan Jakarta masih kalah terik).

Sampaaai di kawasan Candi Prambanan. Masih segersang dulu, tapi tetap indah.



Di luar dugaan, ternyata ramai pengunjung. Padahal hari Senin, huh

































































Museum di dalam kawasan candi.


Dokumentasi mengenai Candi Prambanan sejak pertama dibuat.

Puas menghitamkan diri di Prambanan, aku menuju penginapan di kost D'Paragon daerah Seturan. 1 malam dikenai biaya Rp 125.000 untuk kamar 1 orang. 


Kamarnya lumayan bagus, selimutnya sih yang enak.

Setelah taruh barang lalu kembali melaju ke tempat yang agak sejuk, yaitu Kaliurang. Kawasan wisata Kaliurang berada di lereng Merapi, Kabupaten Sleman. Di sana banyak terdapat jeep-jeep yang diparkir, disewakan untuk yang mau ikut volcano tour. 























Biaya masuk ke Kaliurang karena kami boncengan motor berdua yaitu Rp 5000. Di dalam tempat wisatanya juga dikenai biaya sebesar Rp 3000 per orang dewasa.


Nah sampai di dalam sini jangan bawa kantong plastik, karena bakal menarik perhatian monyet-monyet di sana. Aku mencoba trekking ke Bukit Pronojiwo, tapi saat tinggal sedikit lagi sampai di puncak aku sudah gak kuat jadi kita turun lagi. Mungkin gara-gara hari sebelumnya cuma tidur satu jam lalu langsung naik pesawat ke Yogya. Payah banget :(



Baru hari pertama sudah trekking-trekkingan :(


Walau gak sampai atas, yang penting foto dulu.































































Masih di sekitar situ, ada semacam taman bermain anak yang kayak sudah terbengkalai. Jadi ngebayangin kalau malam terus nyala sendiri, lalu yang naik siapa. Oke stop.

























Pulang dari Kaliurang sudah sore, dan sudah sangat sangat lelah. Jadi hari itu aku tidur super cepat, jam 8 malam sudah tepar. Gak apa, hitung-hitung simpan tenaga buat besok.


Day 2

Hari ke-2 kami jalan-jalan di kota sampai malam. Tujuan pertamaku hari ini adalah Museum Benteng Vredeburg  yang terletak di depan Istana Kesultanan Yogyakarta. Benteng ini merupakan bekas pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda. Harga tiket masuknya sangat terjangkau, untuk orang dewasa cukup siapkan Rp 2000.























Di dalam benteng Vredeburg ternyata ada guest house-nya juga. Serius, siapa ya yang mau menginap di situ? Katanya sih museum ini angker, kalau malam suka terlihat para noni Belanda berseliweran. Haduh.












































Ada beberapa bangunan di dalam benteng yang dijadikan ruang diorama mengenai sejarah Indonesia. Saat masuk ke salah satu ruang diorama, bulu kudukku berdiri begitu mendengar alunan biola lagu Gugur Bunga karya Ismail Marzuki sebagai background music. 






























Tempat kedua yang aku kunjungi yaitu Istana Air Taman Sari (Taman Sari Water Castle). Dulunya, Taman Sari adalah kebun istana Keraton Yogyakarta. Di dalam kompleks Taman Sari terdapat Umbul Pasiraman, yaitu sebuah kolam pemandian bagi Sultan dan para anak istrinya. Sayangnya pas aku ke sana kolamnya lagi ga terisi.



Nanti kita kunjungi bangunan tua di latar belakang itu.


Airnya manaaa?
































































Masih di dalam kompleks Taman Sari, ada sebuah bangunan tua bernama Sumur Gumuling. Ada terowongan bawah tanah yang dapat digunakan sebagai akses menuju tempat ini. Dahulu kala, Sumur Gumuling juga berfungsi sebagai masjid bawah tanah sekaligus tempat persembunyian Sultan. Dulu bangunan ini dipenuhi lumut dan berbau tidak sedap, tapi sekarang sudah lebih terawat.


Terowongan menuju Sumur Gumuling, dulu di dalam sini ada kehidupan. Kala itu Yogyakarta terkena banjir, jadi orang-orang mengungsi ke dalam terowongan ini. Dan dulu itu belum terbuka kayak yang terlihat di foto cahaya bisa masuk.



Nah, pasti pernah lihat tempat ini dong di Google? :p 
Bangunan tua yang tadi terlihat dari jauh.
























Tepat tengah hari, kami makan siang di salah satu tempat makan terkenal di Yogya, yaitu Lotek & Gado-Gado Bu Bagyo di daerah Sagan. Tempatnya jarang sepi dan dia buka sampai malam, makanannya murah dan porsinya super banyak. Aku makan lotek kupat seharga Rp 9000 dan kenyangnya sampai besok.























Jam 4 sore keliling Malioboro


Sore itu langit gelap sekali dan hujan mulai turun, aku pun bergegas pergi dari Malioboro mencari tempat nongkrong sembari berteduh. Sampailah kita di sebuah angkringan, patehan, tempatnya sudah tua dan kuno sekali tapi suasananya enak dan hangat. Kami pesan teh hangat, duduk-duduk sambil bercerita tentang apa saja.























Setelah hujan mulai reda, rencananya mau ke Alun-Alun Selatan, tapi hujan mulai deras lagi. Kami pun kembali berteduh, kali ini di tempat tidak jauh dari alun-alun, namanya I:Boekoe. Kalau familiar dengan r: boekoe (radio boekoe), nah di sinilah markasnya. Koleksi buku-bukunya lumayan banyak dan tempatnya nyaman. 























Setelah hujan agak mereda (lagi), kami ke Alun-Alun Selatan

Ada Odong-Odong nyentrik, salah satu yang unik di Yogya.

Di sana aku juga sempat nyobain peruntungan misteri pohon Beringin kembar yang terletak tepat di tengah alun-alun. Katanya kalau kita punya keinginan, cukup dengan lewat di antara kedua pohon itu maka keinginan kita akan terkabul. Ternyata gak semudah itu, mata kita juga harus ditutup lalu badan diputar sebanyak 7 kali, baru deh boleh jalan atau lari juga silahkan. Aku nyoba dan malah nyasar ke kanan jauh banget. Huff.






















Pohon Beringin-nya waktu siang hari, biar lebih jelas.























Lengkung Gading.
























Di sini adalah nol kilometer-nya Yogya. Kalau malam minggu katanya ramai sekali.

Monumen Serangan Umum 1 Maret. 






















Terakhir sebelum pulang, Tugu Jogja, sarat doang. hihihi.






















Day 3


Bangun kesiangan, diusir dari penginapan karena lewat batas jam check-out. Makan siangnya McD *hiks*, lalu berangkat menuju Magelang. Woooo~