Kau bisa bilang ini merupakan sebuah surat terbuka, yang kutulis lantang-lantang hingga kedelapan jemariku menegang. Kau bisa bilang ini lelucon, karena kita tak pernah kenal sebelumnya. Tapi kau tak bisa tak membaca sampai habis, sebab rasa penasaranmu mulai mengikis.
Hai, orang asing. Aku tak pernah tahu warna matamu, pun menghirup bau tembakau atau cat minyak yang menempel di tubuhmu. Aku tak pernah mendengar suaramu, apakah renyah apakah basah, aku tak tahu. Aku tak pernah melihat caramu berjalan, caramu tersipu malu, caramu membasuh peluh di wajah, aku tak tahu.
Sebagaimana sepotong adegan dalam sebuah serial televisi Amerika mengatakan bahwa tidak ada hal baik terjadi setelah pukul dua, aku menemukannya sebagai sebuah kesalahan. Pada hari-hari sepi tertentu, waktu setelah pukul dua adalah semacam lotre menjelang terlelap dalam tidur yang lelah. Bisa-bisanya hadiahnya. Bisa-bisanya tersenyum hingga tertidur. Bisa-bisanya namamu yang terakhir kusebut sebelum mimpi menyambut.
Kapan-kapan bolehkah kita duduk berhadap-hadapan? Di atas meja sudah kusiapkan secangkir percakapan dengan dua sendok rindu, sebab dadaku sudah terlalu penuh olehmu; orang asing yang melukis candu.