Friday, January 31, 2014

Surat Untuk Tuan Pohon Yang Pemalu



Tuan pohon yang pemalu, 
Aku tidak pandai menulis surat.
Kugurat singkat-singkat saja pada sehelai daunmu, 
kuberi tanda dengan getah dari batangmu, 
tidak terlipat dan tidak menyentuh tanah.


Tuan pohon yang pemalu, 
ini isi suratku: Aku punya pertanyaan,
Dosakah merindukan orang asing,
yang bahkan tak pernah kudengar suaranya?

Friday, January 17, 2014

Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 @Galeri Nasional

Beberapa waktu lalu saya dan Eveline sempat mengunjungi sebuah program bertajuk Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 di Galeri Nasional, Jakarta. Diadakan selama sebulan, dari tanggal 19 Desember 2013 hingga 19 Januari 2014. Pameran bertema GeoEtnik ini adalah sebuah program berskala nasional, melibatkan 93 peserta dari 8 sektor ekonomi kreatif, seperti arsitektur, desain interior, kriya, tekstil dan grafis. Ada 53 karya personal dan 13 karya kolaborasi yang dipamerkan di pameran ini. 

Berikut beberapa foto (iya foto saya, hehe) yang diambil di sana.


Cocoon Menetas di Alam
Children's Nest
Children's Nest (2)
Rumah Kucing
Ombusombus
Farhat

Grafiti di tembok bagian luar galeri

Instalasi kertas oleh BPA Architect
Instalasi kertas (2)


The 8th Day, karya Yasser Rizky (kebetulan dosen di kampus saya)
Through The Space Within Padmasana






















































































Sebagai orang yang bekerja di bidang kreatif, tentu saya sangat menghargai kegiatan pameran seni seperti ini, karena penghargaan terhadap seni masih sangat rendah di Indonesia. Saya harap akan ada lebih banyak lagi event semacam ini, agar kita dapat lebih menghargai sekaligus menunjukkan kualitas terbaik desainer-desainer lokal. Oh iya, maaf tidak semua karya saya cantumkan, karena memang banyak sekali. 

Cari Angin di Luar Museum Keprajuritan Indonesia

Anak Jakarta atau yang pernah ke Jakarta pasti kenal dengan tempat wisata TMII a.k.a Taman Mini Indonesia Indah. TMII ini tuh versi kecilnya Nusantara, karena di tempat ini ada bermacam-macam ikon budaya dari banyak suku di Nusantara, contohnya rumah adat. Selain itu, ada banyak sekali museum di sana, seperti Museum Listrik, Museum Serangga, Museum Olahraga dan masih banyak lagi. TMII merupakan alternatif tempat wisata yang cocok untuk anak-anak, karena memiliki nilai budaya dan edukasi yang tinggi, namun tetap dikemas dengan fun dan playful. Tidak heran bila TMII sering dijadikan tujuan karyawisata dari sekolah-sekolah. Nah, kalau yang sudah pernah ke sini pasti tahu dong bangunan di bawah ini?

























Yap, benteng yang keren ini (apalagi kalau lihat langsung) adalah Museum Keprajuritan Indonesia. Cukup dengan mengorek kocek sebesar 2500 rupiah saja untuk bisa masuk ke dalam area museum. Museum ini menyajikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sangat disayangkan bagian dalam yakni ruang diorama penerangannya kurang dan sedikit kotor seperti tidak terawat. Yang mau belajar harus masuk ke dalam, kelas menengah alay yang mau foto-foto juga bisa foto di atas danau sampai di tangga darurat.

Sebenarnya pas di dalam rada ngeri karena ruangannya gelap (pake banget) jadi jalannya buru-buru. Ditambah banyak patung-patung yang disinari cahaya minim, makin pingin cepet-cepet keluar. Hasilnya ya enggak sempat lihat apa-apa. Susah ya kalau takut gelap.

Jadi saya nggak mau bahas dulu ada apa di dalam benteng angker itu, melainkan apa yang ada di sekitarnya. Bukan membahas juga sih, cuma pamer foto. Oh, maafkan kalau di sebagian besar foto ada anak kecil berbaju biru. Bukan, bukan penunggu museum, itu adik saya. Dan waktu itu mendung jadi suasana fotonya agak-agak sendu tidak berwarna.

Perairan persis di depan benteng. Tenang, kita gak harus berenang untuk mencapai benteng.
























Di ujung perairan, persis menempel dekat jembatan ada dua kapal tradisional yaitu Kapal Pinisi dan Kapal Banten, tapi yang kefoto cuma satu (uh maaf). Foto yang di bawah ini adalah Kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan. Bisa naik ke atasnya loh, bukan sekedar pajangan doang.


Kapal Pinisi
























Jembatannya goyang-goyang. Saya takut air, jadi terlihat konyol waktu menyebrang, sampai terpaksa disalip beberapa pengunjung karena berjalan terlalu lama.
























Di atas kapal Pinisi! Adik saya minta difoto biar kesannya naik kapal beneran.
























Jembatan menuju benteng.
























Di sekitar perairan dan benteng juga ada taman, banyak pohon rindang dan kursi untuk duduk-duduk manis. Yang mau selonjoran sambil ngemil bareng keluarga, teman, atau pacar bisa banget. Wisata yang cukup murah kan? :p (tapi jangan dihitung sama tiket masuk TMII-nya ya)

Tuesday, January 14, 2014

Tidak perlu dibaca.

Januari sudah berjalan separuh bulan, saya masih pengangguran. Hari ini pun masih. Sebenarnya saya sedang ada pekerjaan, menjadi joki tugas mata kuliah Eastern Art adik saya. Tapi rupanya menjadi joki tidak semenyenangkan kelihatannya, apalagi tugasnya adalah membuat paper analisa seni dari mata kuliah yang dulu jarang saya hadiri (saya selalu tidur di luar kelas).

Semakin sore saya semakin murung. Jus kombinasi bayam dan pisang yang saya buat terlalu banyak air. Ibu masak rendang sapi padahal saya tidak bisa makan daging itu. Kerupuk seblak yang dulu selalu bikin saya nangis sekarang tidak pedas lagi. Iseng ke toko buku, masih belum ada nama saya di dalam buku ‘nama-nama indah untuk bayi dan artinya’. Hujan turun terus, sampai saya sadar kalau memang sedang musim hujan. Jarang bertemu teman, saya jadi jarang membuat jokes tidak lucu yang ujung-ujungnya tetap ditertawakan karena lucu. Humph.


Oh iya, ini aneh sekaligus tidak penting, tapi belakangan ini setiap hari setiap menengok jam, angkanya selalu kembar. Siapa yang rindu? Mengakulah.

Wednesday, January 8, 2014

Ironi.

Aku telah jatuh cinta.

H..hei, tidak sopan bertanya siapa. Takkan kuberitahu. Singkirkan tanganmu dariku, atau..hei! Oke, oke. Singkat saja ya.

Umurnya dua puluh enam. Setidaknya itu yang dikatakan orang-orang. Tubuhnya agak bungkuk dan warna kulitnya pucat, dapat kupastikan dia jarang berolahraga. Rambutnya hitam, berantakan. Selalu berantakan. Setiap kali kuacak-acak rambutnya setelah dia berusaha membuatnya terlihat rapih. Dia tidak marah, malah tersenyum sembari menciumku dengan gemas. Dia adalah pria dengan lesung pipi tertampan yang pernah kukenal. Aku suka caranya mengelus ubun-ubunku, rasanya hangat.

Warna matanya coklat tua. Aku suka caranya menatapku. Dalam dan luas. Aku ingin berteduh lama-lama di sana. Tapi..ah tidak, tidak. Aku lebih suka saat dia tidur. Kau tahu, manusia lebih jujur saat tidur. Wajah lugu dan lelahnya yang tidak artifisial. Aku biasa membasuh peluhnya di kala dia bermimpi buruk.

Aku jatuh cinta, bahkan sebelum mendengar suaranya. Dia jarang berbicara, pada orang lain maupun padaku. Padahal aku suka sekali suaranya. Berat, namun lembut. Aku suka suaranya kala berbisik, terdengar menenangkan sekaligus membangunkan. Membangunkan apalagi? Jangan pura-pura tidak mengerti.

Setiap malam kami bersama dalam diam. Aku memejamkan mata, hanyut di pangkuannya. Dia membaca buku, sesekali melihatku. Kami berbagi kue kering dan susu hangat. Cara makannya seperti anak kecil, berantakan. Aku yang membersihkan remah-remah kue di kemeja jeans lusuh kesayangannya. Dia tersenyum lagi. Aku ingin sekali dia tahu perasaanku padanya. Tapi itu tidak mungkin.

Seekor kucing tidak bisa terlalu mencintai tuannya sendiri.

(Lagipula, seindah apapun ungkapan rasa cinta yang kuutarakan, yang terdengar di telinganya hanya suara mengeong)