Friday, January 31, 2014
Surat Untuk Tuan Pohon Yang Pemalu
Friday, January 17, 2014
Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 @Galeri Nasional
Berikut beberapa foto (iya foto saya, hehe) yang diambil di sana.
![]() |
| Cocoon Menetas di Alam |
![]() |
| Children's Nest |
![]() |
| Children's Nest (2) |
![]() |
| Rumah Kucing |
![]() |
| Ombusombus |
![]() |
| Farhat |

![]() |
| Grafiti di tembok bagian luar galeri |

![]() |
| Instalasi kertas oleh BPA Architect |
![]() |
| Instalasi kertas (2) |
![]() |
| The 8th Day, karya Yasser Rizky (kebetulan dosen di kampus saya) |
![]() |
| Through The Space Within Padmasana |
Sebagai orang yang bekerja di bidang kreatif, tentu saya sangat menghargai kegiatan pameran seni seperti ini, karena penghargaan terhadap seni masih sangat rendah di Indonesia. Saya harap akan ada lebih banyak lagi event semacam ini, agar kita dapat lebih menghargai sekaligus menunjukkan kualitas terbaik desainer-desainer lokal. Oh iya, maaf tidak semua karya saya cantumkan, karena memang banyak sekali.
Cari Angin di Luar Museum Keprajuritan Indonesia

Yap, benteng yang keren ini (apalagi kalau lihat langsung) adalah Museum Keprajuritan Indonesia. Cukup dengan mengorek kocek sebesar 2500 rupiah saja untuk bisa masuk ke dalam area museum. Museum ini menyajikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sangat disayangkan bagian dalam yakni ruang diorama penerangannya kurang dan sedikit kotor seperti tidak terawat. Yang mau belajar harus masuk ke dalam,
Sebenarnya pas di dalam rada ngeri karena ruangannya gelap (pake banget) jadi jalannya buru-buru. Ditambah banyak patung-patung yang disinari cahaya minim, makin pingin cepet-cepet keluar. Hasilnya ya enggak sempat lihat apa-apa. Susah ya kalau takut gelap.
Jadi saya nggak mau bahas dulu ada apa di dalam benteng
![]() |
| Perairan persis di depan benteng. Tenang, kita gak harus berenang untuk mencapai benteng. |
Di ujung perairan, persis menempel dekat jembatan ada dua kapal tradisional yaitu Kapal Pinisi dan Kapal Banten, tapi yang kefoto cuma satu (uh maaf). Foto yang di bawah ini adalah Kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan. Bisa naik ke atasnya loh, bukan sekedar pajangan doang.
![]() |
| Kapal Pinisi |
Jembatannya goyang-goyang. Saya takut air, jadi terlihat konyol waktu menyebrang, sampai terpaksa disalip beberapa pengunjung karena berjalan terlalu lama.
Di atas kapal Pinisi! Adik saya minta difoto biar kesannya naik kapal beneran.
Jembatan menuju benteng.
Di sekitar perairan dan benteng juga ada taman, banyak pohon rindang dan kursi untuk duduk-duduk manis. Yang mau selonjoran sambil ngemil bareng keluarga, teman, atau pacar bisa banget. Wisata yang cukup murah kan? :p (tapi jangan dihitung sama tiket masuk TMII-nya ya)
Tuesday, January 14, 2014
Tidak perlu dibaca.
Semakin sore saya semakin murung. Jus kombinasi bayam dan pisang yang saya buat terlalu banyak air. Ibu masak rendang sapi padahal saya tidak bisa makan daging itu. Kerupuk seblak yang dulu selalu bikin saya nangis sekarang tidak pedas lagi. Iseng ke toko buku, masih belum ada nama saya di dalam buku ‘nama-nama indah untuk bayi dan artinya’. Hujan turun terus, sampai saya sadar kalau memang sedang musim hujan. Jarang bertemu teman, saya jadi jarang membuat jokes tidak lucu yang ujung-ujungnya tetap ditertawakan karena lucu. Humph.
Oh iya, ini aneh sekaligus tidak penting, tapi belakangan ini setiap hari setiap menengok jam, angkanya selalu kembar. Siapa yang rindu? Mengakulah.
Wednesday, January 8, 2014
Ironi.
Aku telah jatuh cinta.
H..hei, tidak sopan bertanya siapa. Takkan kuberitahu. Singkirkan tanganmu dariku, atau..hei! Oke, oke. Singkat saja ya.
Umurnya dua puluh enam. Setidaknya itu yang dikatakan orang-orang. Tubuhnya agak bungkuk dan warna kulitnya pucat, dapat kupastikan dia jarang berolahraga. Rambutnya hitam, berantakan. Selalu berantakan. Setiap kali kuacak-acak rambutnya setelah dia berusaha membuatnya terlihat rapih. Dia tidak marah, malah tersenyum sembari menciumku dengan gemas. Dia adalah pria dengan lesung pipi tertampan yang pernah kukenal. Aku suka caranya mengelus ubun-ubunku, rasanya hangat.
Warna matanya coklat tua. Aku suka caranya menatapku. Dalam dan luas. Aku ingin berteduh lama-lama di sana. Tapi..ah tidak, tidak. Aku lebih suka saat dia tidur. Kau tahu, manusia lebih jujur saat tidur. Wajah lugu dan lelahnya yang tidak artifisial. Aku biasa membasuh peluhnya di kala dia bermimpi buruk.
Aku jatuh cinta, bahkan sebelum mendengar suaranya. Dia jarang berbicara, pada orang lain maupun padaku. Padahal aku suka sekali suaranya. Berat, namun lembut. Aku suka suaranya kala berbisik, terdengar menenangkan sekaligus membangunkan. Membangunkan apalagi? Jangan pura-pura tidak mengerti.
Setiap malam kami bersama dalam diam. Aku memejamkan mata, hanyut di pangkuannya. Dia membaca buku, sesekali melihatku. Kami berbagi kue kering dan susu hangat. Cara makannya seperti anak kecil, berantakan. Aku yang membersihkan remah-remah kue di kemeja jeans lusuh kesayangannya. Dia tersenyum lagi. Aku ingin sekali dia tahu perasaanku padanya. Tapi itu tidak mungkin.
Seekor kucing tidak bisa terlalu mencintai tuannya sendiri.
(Lagipula, seindah apapun ungkapan rasa cinta yang kuutarakan, yang terdengar di telinganya hanya suara mengeong)
















