Kau adalah sekeras-kerasnya lengking peluit kereta api.
Apalah aku, hanya bisa membungkuk menanti di peron,
tak punya petunjuk kapan kereta tiba di stasiun.
Kau adalah selembut-lembutnya harum petrikor pada hujan pertama di bulan Oktober.
Apalah aku, yang hanya ingin menjadi tanah gersang yang merayu mesra sekelompok awan.
Kau adalah sebising-bisingnya guratan tinta pada sore yang bising.
Dan apalah aku, aku hanya ingin menjadi lembar buku tua dengan segala ketulusannya.
Di sana masing-masing kita membagi jejak, selebihnya kau dan aku tak lagi berjarak.
tak punya petunjuk kapan kereta tiba di stasiun.
Kau adalah selembut-lembutnya harum petrikor pada hujan pertama di bulan Oktober.
Apalah aku, yang hanya ingin menjadi tanah gersang yang merayu mesra sekelompok awan.
Kau adalah sebising-bisingnya guratan tinta pada sore yang bising.
Dan apalah aku, aku hanya ingin menjadi lembar buku tua dengan segala ketulusannya.
Di sana masing-masing kita membagi jejak, selebihnya kau dan aku tak lagi berjarak.
No comments:
Post a Comment