Saturday, November 2, 2013

Aku kembali, Yogya.




(Yogyakarta, 28 - 30 Oktober 2013)

"Kamu baru balik dari Thailand sudah mau jalan lagi. Gak ada puasnya?", kira-kira seperti itulah tanggapan Ibuku waktu aku minta izin travelling ke Yogyakarta. 

Rasanya menyenangkan mencoba kabur dari zona nyaman; lupakan masalah di rumah, mengepak barang, lupakan rasa takut naik pesawat, pergi jauh, bertemu orang asing dan membagi harimu bersamanya, melakukan dan membicarakan apa saja. Manusia bisa berubah ke mana saja, mencari tahu apa saja.

Di penghabisan bulan Oktober tahun ini, aku memilih Yogyakarta sebagai tujuan pelarianku dari sesaknya ibukota.  Ini bukan kali pertamaku singgah di Yogyakarta. 9 tahun lalu aku pernah ke sana, tetapi hanya dalam sebuah program karya wisata dari sekolah. Nah kali ini aku mencoba nekad, untuk pertama kalinya bepergian keluar kota sendirian. Walaupun akhirnya aku kopi darat dengan kenalan dari tumblr yang memang tinggal di sana dan menemaniku selama empat hari di Yogya, Ricky. Dia mah orang Yogya-yogya-an, masa di daerah sendiri bisa nyasar. *ga ngaca ga ngaca*


Day 1

Pukul 6.30 WIB mendarat di Bandara Internasional Adi Sucipto, Sleman, aku dijemput temanku. Setelah sarapan nasi kuning, kami langsung jalan menuju Candi Prambanan. Oh iya, tepat hari ini kata temanku matahari sedang tepat di atas Yogya, jadi hari itu cuacanya memang lumayan panas (walaupun kalau dibandingkan dengan Jakarta masih kalah terik).

Sampaaai di kawasan Candi Prambanan. Masih segersang dulu, tapi tetap indah.



Di luar dugaan, ternyata ramai pengunjung. Padahal hari Senin, huh

































































Museum di dalam kawasan candi.


Dokumentasi mengenai Candi Prambanan sejak pertama dibuat.

Puas menghitamkan diri di Prambanan, aku menuju penginapan di kost D'Paragon daerah Seturan. 1 malam dikenai biaya Rp 125.000 untuk kamar 1 orang. 


Kamarnya lumayan bagus, selimutnya sih yang enak.

Setelah taruh barang lalu kembali melaju ke tempat yang agak sejuk, yaitu Kaliurang. Kawasan wisata Kaliurang berada di lereng Merapi, Kabupaten Sleman. Di sana banyak terdapat jeep-jeep yang diparkir, disewakan untuk yang mau ikut volcano tour. 























Biaya masuk ke Kaliurang karena kami boncengan motor berdua yaitu Rp 5000. Di dalam tempat wisatanya juga dikenai biaya sebesar Rp 3000 per orang dewasa.


Nah sampai di dalam sini jangan bawa kantong plastik, karena bakal menarik perhatian monyet-monyet di sana. Aku mencoba trekking ke Bukit Pronojiwo, tapi saat tinggal sedikit lagi sampai di puncak aku sudah gak kuat jadi kita turun lagi. Mungkin gara-gara hari sebelumnya cuma tidur satu jam lalu langsung naik pesawat ke Yogya. Payah banget :(



Baru hari pertama sudah trekking-trekkingan :(


Walau gak sampai atas, yang penting foto dulu.































































Masih di sekitar situ, ada semacam taman bermain anak yang kayak sudah terbengkalai. Jadi ngebayangin kalau malam terus nyala sendiri, lalu yang naik siapa. Oke stop.

























Pulang dari Kaliurang sudah sore, dan sudah sangat sangat lelah. Jadi hari itu aku tidur super cepat, jam 8 malam sudah tepar. Gak apa, hitung-hitung simpan tenaga buat besok.


Day 2

Hari ke-2 kami jalan-jalan di kota sampai malam. Tujuan pertamaku hari ini adalah Museum Benteng Vredeburg  yang terletak di depan Istana Kesultanan Yogyakarta. Benteng ini merupakan bekas pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda. Harga tiket masuknya sangat terjangkau, untuk orang dewasa cukup siapkan Rp 2000.























Di dalam benteng Vredeburg ternyata ada guest house-nya juga. Serius, siapa ya yang mau menginap di situ? Katanya sih museum ini angker, kalau malam suka terlihat para noni Belanda berseliweran. Haduh.












































Ada beberapa bangunan di dalam benteng yang dijadikan ruang diorama mengenai sejarah Indonesia. Saat masuk ke salah satu ruang diorama, bulu kudukku berdiri begitu mendengar alunan biola lagu Gugur Bunga karya Ismail Marzuki sebagai background music. 






























Tempat kedua yang aku kunjungi yaitu Istana Air Taman Sari (Taman Sari Water Castle). Dulunya, Taman Sari adalah kebun istana Keraton Yogyakarta. Di dalam kompleks Taman Sari terdapat Umbul Pasiraman, yaitu sebuah kolam pemandian bagi Sultan dan para anak istrinya. Sayangnya pas aku ke sana kolamnya lagi ga terisi.



Nanti kita kunjungi bangunan tua di latar belakang itu.


Airnya manaaa?
































































Masih di dalam kompleks Taman Sari, ada sebuah bangunan tua bernama Sumur Gumuling. Ada terowongan bawah tanah yang dapat digunakan sebagai akses menuju tempat ini. Dahulu kala, Sumur Gumuling juga berfungsi sebagai masjid bawah tanah sekaligus tempat persembunyian Sultan. Dulu bangunan ini dipenuhi lumut dan berbau tidak sedap, tapi sekarang sudah lebih terawat.


Terowongan menuju Sumur Gumuling, dulu di dalam sini ada kehidupan. Kala itu Yogyakarta terkena banjir, jadi orang-orang mengungsi ke dalam terowongan ini. Dan dulu itu belum terbuka kayak yang terlihat di foto cahaya bisa masuk.



Nah, pasti pernah lihat tempat ini dong di Google? :p 
Bangunan tua yang tadi terlihat dari jauh.
























Tepat tengah hari, kami makan siang di salah satu tempat makan terkenal di Yogya, yaitu Lotek & Gado-Gado Bu Bagyo di daerah Sagan. Tempatnya jarang sepi dan dia buka sampai malam, makanannya murah dan porsinya super banyak. Aku makan lotek kupat seharga Rp 9000 dan kenyangnya sampai besok.























Jam 4 sore keliling Malioboro


Sore itu langit gelap sekali dan hujan mulai turun, aku pun bergegas pergi dari Malioboro mencari tempat nongkrong sembari berteduh. Sampailah kita di sebuah angkringan, patehan, tempatnya sudah tua dan kuno sekali tapi suasananya enak dan hangat. Kami pesan teh hangat, duduk-duduk sambil bercerita tentang apa saja.























Setelah hujan mulai reda, rencananya mau ke Alun-Alun Selatan, tapi hujan mulai deras lagi. Kami pun kembali berteduh, kali ini di tempat tidak jauh dari alun-alun, namanya I:Boekoe. Kalau familiar dengan r: boekoe (radio boekoe), nah di sinilah markasnya. Koleksi buku-bukunya lumayan banyak dan tempatnya nyaman. 























Setelah hujan agak mereda (lagi), kami ke Alun-Alun Selatan

Ada Odong-Odong nyentrik, salah satu yang unik di Yogya.

Di sana aku juga sempat nyobain peruntungan misteri pohon Beringin kembar yang terletak tepat di tengah alun-alun. Katanya kalau kita punya keinginan, cukup dengan lewat di antara kedua pohon itu maka keinginan kita akan terkabul. Ternyata gak semudah itu, mata kita juga harus ditutup lalu badan diputar sebanyak 7 kali, baru deh boleh jalan atau lari juga silahkan. Aku nyoba dan malah nyasar ke kanan jauh banget. Huff.






















Pohon Beringin-nya waktu siang hari, biar lebih jelas.























Lengkung Gading.
























Di sini adalah nol kilometer-nya Yogya. Kalau malam minggu katanya ramai sekali.

Monumen Serangan Umum 1 Maret. 






















Terakhir sebelum pulang, Tugu Jogja, sarat doang. hihihi.






















Day 3


Bangun kesiangan, diusir dari penginapan karena lewat batas jam check-out. Makan siangnya McD *hiks*, lalu berangkat menuju Magelang. Woooo~

2 comments:

  1. Oi, Marissa blogger juga, toh!

    Jogja memang punya atmosfer yg berbeda. Beberapa kali kunjung pun nggak bosan2, dan memang tempat wisatanya seakan nggak ada habisnya. Feels like home...

    "Leave nothing but footprints. Take nothing but pictures. Kill nothing but time"

    http://makanangin-travel.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, Jogja memang istimewa. Kota yang tenang dan bersahaja itu udah menjadi salah satu rumah perjalanan yang akan selalu diingat :)

      Btw, ini siapa? feeling2 anak dkv binus nih? :)) *maaf abis di profile gak ada namanyaa hahaha

      Delete